Meningkatkan fungsi Banjir Kanal Timur Semarang

Sekolah Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung

Media release

Meningkatkan fungsi Banjir Kanal Timur Semarang

Oleh: Alecia Artita Midori dan Dasapta Erwin Irawan

Riset ini dilakukan oleh Aletia Artita Midori, mahasiswa S2 Arsitektur Lanskap ITB yang saat ini sedang menyelesaikan tesisnya. Penelitian thesis ini dilakukan di bawah bimbingan Ir. Budi Faisal, MAUD., MLA., Ph.D pada tahun 2015 dengan topik Revitalisasi Kanal Banjir Timur Semarang.

Artikel ini merupakan media release tanpa mengurangi makna originalitas riset saat akan dipublikasikan secara formal di media lain. Hasil lengkap riset ini sepenuhnya menjadi milik Midori dan pembimbingnya.  

Untuk informasi lebih lanjut silahkan melayangkan surel ke: alecia [.] artita [.] midori [@] gmail [.] com

“Betonisasi kanal merusak ekosistem natural kawasan bantaran sungai – Midori”

Oleh kalangan ahli lanskap, banjir kanal menghilangkan nilai ekologi alami bantaran sungai. Mereka berpendapat bahwa air sungai masih memungkinkan untuk ditahan agar tidak langsung mengalir ke laut, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air.

Banjir merupakan hal yang sering terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dan Kota Semarang adalah salah satunya. Banjir di Kota Semarang sudah terjadi sejak jaman kolonial dan oleh sebab itu Pemerintah Kolonial Belanda membangun dua kanal besar di Semarang yaitu di sebelah barat dan di sebelah timur. Kanal Banjir Barat dibangun pada tahun 1880 dan 20 tahun setelahnya tepatnya pada tahun 1900, Kanal Banjir Timur dibangun untuk mengalirkan air dari tengah kota ke Laut Jawa dan sebagai pencegah banjir di Kota Semarang. Saat ini, Kanal Banjir Timur mengalami pendangkalan yang menyebabkan kanal ini tidak berfungsi secara optimal dalam mencegah banjir (peta lokasi dalam Gambar 1).

Gambar 1 Lokasi penelitian (diambil dari Google Maps)

Pemerintah Kota Semarang berencana untuk melakukan normalisasi Kanal Banjir Timur pada tahun 2018 mendatang. Desain yang akan diterapkan hampir sama dengan Kanal Banjir Barat yaitu dengan membuat penampang yang lebih besar dan terbuat dari beton.

Sistem kanal beton seperti ini, yang teknologinya mungkin telah ada sejak zaman prasejarah, dianggap kurang tepat karena potensinya dalam merusak ekosistem riparian yang ada di bantaran sungai (Definisi riparian zone1, 2, 3). Aliran air sungai dapat dibuat lebih natural dengan adanya beberapa meandering yang memungkinkan air berjalan lebih lambat dan dapat diserap oleh tanah sebelum akhirnya mengalir ke laut. Air yang terserap dapat disimpan di dalam tanah dan akan menambah pasokan air tanah yang dapat digunakan oleh permukiman di sepanjang kanal banjir timur. Beberapa foto dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Beberapa foto kanal (dokumentasi pribadi)

Riset ini terinspirasi oleh “Bishan Ang Moo Kio Park”, salah satu taman kota di Singapura yang dilalui oleh salah satu sungai besar di Singapura yang bernama Sungai Kallang. Sungai Kallang dibuat sekitar tahun 1960-1970 oleh Pemerintah Singapura sebagai saluran pembuangan kota. Pada awalnya, sungai ini terbuat dari beton bertulang dan dibuat lurus langsung menuju laut agar air dapat segera dibuang ke laut. Namun pada tahun 2009 Pemerintah Singapura mengubah sungai tersebut menjadi lebih natural dan menyatu dengan taman di bantarannya.

Dengan penataan Kanal Banjir Timur menjadi lebih natural diharapkan air yang mengalir dapat diserap dan ditampung terlebih dahulu sebelum dialirkan ke laut. Selain itu dengan adanya kolam-kolam penampungan, masalah banjir dapat diatasi dan air yang ditampung dapat menjadi sumber air bagi permukiman di sekitar Kanal. Dengan fungsi ini, diharapkan Kanal Banjir Timur dapat lebih optimal dalam mencegah banjir di kawasan permukiman di Kota Semarang.  

Publikasi yang dihasilkan:

Midori, A.A., Faisal, B., dan Irawan, D.E., 2017, Mengoptimalkan fungsi sistem Kanal Banjir Timur Semarang sebagai pengendali banjir, Seminar Nasional IPTEKS, LPPM-ITB, April 2017 (in review).

_______

[insert foto] Alecia Artita Midori adalah Mahasiswa Magister Arsitektur Lanskap ITB. Ia mengambil studi sarjana pada tahun 2010 hingga 2014 di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang dan aktif di dalam organisasi kemahasiswaan fakultas. Sempat bekerja di Springhill Bandar Lampung sebagai arsitek sebelum kemudian melanjutkan S2 di bidang Arsitektur Lanskap ITB pada tahun 2015. Bidang yang di dalaminya adalah area lanskap tepi sungai dan sekitarnya.

One Reply to “Meningkatkan fungsi Banjir Kanal Timur Semarang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *