Jadi Lulusan Pertama Prodi Teknologi Nano ITB, Ini Sosok Lavita

lavita

Berkebaya merah muda berbalut toga biru tua, perempuan itu sisipkan satu dua patah kata perpisahan pada Sidang Terbuka ITB. Pidato perpisahan itu ia tutup dengan slogan kebanggan almamater, Salam Ganesa, di hadapan 2.049 wisudawan lainnya.
Pemilihan Lavita Nur’aviani Rizal Putri sebagai perwakilan wisudawan bukan tanpa alasan. Pasalnya, Lavita menjadi orang pertama yang lulus dari Program Studi Magister Teknologi Nano ITB, bahkan dengan predikat cum laude.

Perempuan yang akrab disapa Lavita itu memulai pendidikan S2 di tahun 2020 dalam kondisi pandemi yang serba daring. Meski ia mengaku sempat kesulitan, hal ini tidak menghalangi asanya untuk melakukan penelitian dan menyelesaikan studinya.

Berkenalan dengan Teknologi Nano
Lavita mulai mengenal dunia nano material saat terlibat dalam riset bersama dosen ITB. Di sana, ia bekerja sama dengan berbagai program studi, profesi, universitas, bahkan industri sehingga kesadaran akan pentingnya kolaborasi multidisiplin pun muncul. Bersamaan dengan itu, ITB membuka Program Studi Magister Teknologi Nano untuk pertama kalinya di tahun 2020.

“Prodi ini berada langsung di bawah Sekolah Pascasarjana, gak di bawah Fakultas/Sekolah tertentu karena dosen-dosennya sendiri berasal dari berbagai fakultas. Di sini kita boleh riset apapun. Selain itu, konsep kolaborasi juga ditekankan banget. Jadi aku tertarik banget karena menurutku prodi di Indonesia kebanyakan risetnya selinear dengan bidangnya, sementara di prodi ini kita bisa riset ke berbagai bidang keilmuan,” jelas lulusan sarjana Teknik Biomedis ITB itu.

Kembangkan Sensor Deteksi Dopamin
Dalam tesisnya, Lavita mencoba mengembangkan kinerja sebuah sensor bernama screen printed carbon electrode. Sensor ini nantinya dapat mendeteksi dopamin di dalam tubuh tanpa menyakiti tubuh.

Ia menggunakan emas berukuran nano sebagai material yang bisa meningkatkan performa sensor tersebut. Hasil penelitian ini bisa mengindikasi banyak penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson, sementara cara yang selama ini dilakukan untuk memeriksanya dapat terbilang menyakitkan bagi tubuh.

Bagikan 3 Tips
Berbaik hati, Lavita juga memberikan beberapa tips bagi teman-teman mahasiswa yang saat ini masih berjuang untuk menyelesaikan pendidikan di ITB.

1. Manfaatkan Situasi
Lavita menyarankan untuk tidak terus menerus terjebak dalam keterbatasan. Ia bertutur mahasiswa bisa memanfaatkan situasi dengan sebaik mungkin, terlebih di masa pandemi yang serba online.

“Dalam kondisi apapun (baik pembelajaran online maupun offline), kita lihat dari sisi baiknya aja biar kita bisa memanfaatkan situasi yang ada dan cari cara bagaimana kita bisa nyaman dalam belajar. Misalnya pas online ketika dosen menjelaskan dan ada hal yang kita gak paham, kita bisa langsung searching untuk bisa dibaca setelah selesai kelas,” Jelasnya.

2. Kenali Teman Seperjuangan
Sulit untuk berjuang sendiri. Maka dari itu, Lavita menyarankan para mahasiswa untuk menjaga hubungan dengan teman seperjuangan, sebab hal ini bisa membantu sekali dalam belajar.

“Jangan lupa juga untuk reach teman-teman seperjuangan kita, jadi bisa bertanya kalau ada yang kurang ngerti,” Tuturnya.

3. Terbuka Pada Peluang Baru
Terakhir, Lavita memberikan pesan kepada para wisudawan maupun mahasiswa ITB untuk lebih terbuka dalam melihat peluang-peluang yang ada di sekitar kita. Peluang tersebut salah satunya dapat hadir dalam bentuk kerja sama dan kolaborasi.

Menurutnya, bekerja sama dengan orang lain membuat kita mendapatkan banyak pembelajaran. Sebab itu, sebaiknya kita tidak menutup diri dari kerja sama serta menurunkan arogansi kita.

Setelah menyandang gelar kedua dari ITB, perempuan asal Bandung ini berencana kembali melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Semangatnya untuk ilmu dan melakukan penelitian, membuat Lavita sangat terbuka akan opsi-opsi yang ada.

Artikel ini telah dimuat di https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-6208476/jadi-lulusan-pertama-prodi-teknologi-nano-itb-ini-sosok-lavita

Berita Terkait